Sudah Terserang Hama Tikus, Kini 1500 Hektare Tanaman Padi Puso, Mirisnya Lagi 3000 Ha Sawah Alami Krisis Air

Sudah Terserang Hama Tikus, Kini 1500 Hektare Tanaman Padi Puso, Mirisnya Lagi 3000 Ha Sawah Alami Krisis Air

MATI KERING – Petani di wilayah Kecamatan Kandanghaur menunjukkan tanaman padinya yang mati kering alias puso gegara kekurangan pasokan air.-KHOLIL IBRAHIM-RADAR INDRAMAYU

KANDANGHAUR, RADARINDRAMAYU.ID  – Musim tanam gadu tahun 2023 ini benar-benar menjadi cobaan berat bagi para petani diwilayah pesisir pantura Kecamatan Kandanghaur.

Sudahlah ditimpa serangan hama tikus yang tak kunjung usai, kini mereka akhirnya harus menelan pil pahit.

Pasalnya, tanaman padi yang mereka jaga siang malam dari amukan si Monyong, malah mati alias puso.

“Musababnya klasik, gegara kekurangan air,” ucap Ketua KTNA Kecamatan Kandanghaur, Waryono Batak kepada Radar, Selasa (15/8).

 BACA JUGA:Wagub Uu Dialog Penguatan Nilai Budaya Lokal di Goa Sunyaragi

BACA JUGA:Aldi Taher Makin Meroket hingga Banyak Dapat Tawaran Manggung di Luar Kota

Dari data yang dihimpunnya, tanaman padi yang mengalami puso alias gagal panen mencapai 1500 hektare.

Tersebar di 8 desa. Yakni Desa Karangmulya, Wirakanan, Wirapanjunan, Parean Girang, Karanganyar, Pranti, Bulak dan Desa Ilir.

Waryono menyebut, rata-rata umur padi yang terkena puso antara 30-60 hari setelah tanam (hst).“Ada sekitar 1500 hektare tanaman padi yang tidak bisa diselamatkan. Gagal panen,” kata dia.

Tak sampai disitu. Ia memperkirakan, jumlah tanaman padi yang gagal panen bakal terus bertambah. Tercatat sekitar 3000 hektare sawah kini mengalami krisis air.Tersebar merata di 13 desa se-Kecamatan Kandanghaur.

 BACA JUGA:Hadirnya Tol Cisumdawu dan BIJB, Bupati Karna Siapkan Kualitas SDM Lewat BLK

BACA JUGA:Harga Garam Anjlok, Petani di Kabupaten Cirebon Merugi Tidak Bisa Menutupi Ongkos Produksi

Petani tak bisa berbuat apa-apa. Mengandalkan curah hujan sudah tidak mungkin. Upaya pompanisasi juga tidak bisa diharapkan.Karena cadangan air di penampungan pintu air telah habis. Kali pembuang Cipanas juga sudah hampir kering.

“Mau nyedot air dari mana? Saluran irigasi kering semua.Isinya rumput,” ketusnya.

Karena itu pihaknya berharap pihak berwenang dapat membantu persoalan pasokan air diwilayahnya.Sebab apabila pasokan air tak segera tiba, maka tanaman padi menjelang panen itu tidak akan selamat. Jikapun dapat dipanen maka maka bulir padinya akan kosong.Petasi dipastikan merugi.

Salah seorang petani, Amin mengaku hanya bisa pasrah.Dia mengaku sudah keluar modal banyak untuk mengusahakan ketersediaan air lewat pompanisasi sejak musim tanam tiba. Namun pas tanaman padinya lagi bunting, air justru langka.

 Padahal Amin berharap hasil panen kali ini dapat memperoleh keuntungan signifikan. “Biasanya panen padi musim gadu, harga gabahnya mahal. Tapi mau gimana lagi,” keluahnya. (kho)

BACA JUGA:Tingkatkan Produksi Migas, PT Pertamina EP Tandatangani Amandemen Perjanjian Kerja Sama Operasi

BACA JUGA:KAI Daop 3 Cirebon Gelar Turnamen Catur Merah Putih Antar Jurnalis. Juaranya dari Indramayu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: