Mengenang 50 Tahun Kecelakaan Jembatan Sewo yang Menewaskan 67 Transmigran, Hanya 3 Anak Selamat

Jaelani, Suyanto, dan Sangidu, korban selamat kecelakaan bus transmigran di Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu terjadi pada 11, Maret 1974.-Diskominfo Indramayu-radarindramayu.id
Ketiga korban selamat sempat dihadirkan di Kabupaten Indramayu dan mengunjungi lokasi pada tahun 2018.
Mereka juga dibawa ke Monumen Makam Pionir Pembangunan Transmigrasi untuk ziarah dan kembali mengenang kejadian itu.
Staf Ahli Menteri Desa PDTT Bidang Ekonomi Lokal, Ansar Husen mengungkapkan, monumen tersebut didirikan dengan penuh simbolik untuk penghormatan bagi para korban.
"Didirikannya monumen ini untuk mengenang mereka yang telah ditetapkan sebagai pionir pembangunan transmigrasi karena bagian dari transmigran pertama di Indonesia," kata Ansar di laman Kemendes PDTT.
BACA JUGA:Momen Kang Dedi Mulyadi Sawer di Jembatan Sewo, Singgung Soal Tolak Bala
Tugu Monumen yang tingginya tujuh meter dipadukan dengan tiang sebanyak empat buah itu memuat simbol yang mempunyai makna tertentu.
Ukiran pepatah Jawa yaitu "Jer Basuki Mawa Beya" pada monumen tersebut mengandung makna memegang prinsip, bahwa segala usaha untuk mencapai tujuan diperlukan pengorbanan.
Sayangnya, peristiwa kecelakaan tersebut kemudian dibumbui dengan mitos. Terutama soal ritual tolak bala di Jembatan Sewo.
Bahkan kejadian kecelakaan tragis tersebut seolah sudah terlupakan seiring waktu berjalan. Yang lebih menonjol adalah keberadaan pengalap tawur atau penyapu koin di Jembatan Sungai Sewo.
Mereka memanfaatkan keyakinan masyarakat untuk tolak bala dengan melakukan tawur koin di Jembatan Sewo.
Kepercayaan itu, diantaranya diyakini pengendara dari Jawa Tengah, supaya diberi selamat dalam perjalanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: