Momen Kang Dedi Mulyadi Sawer di Jembatan Sewo, Singgung Soal Tolak Bala

Momen Kang Dedi Mulyadi Sawer di Jembatan Sewo, Singgung Soal Tolak Bala

Kang Dedi Mulyadi sawer koin di Jembatan Sewo perbatasan Kabupaten Indramayu - Subang.-Kang Dedi Mulyadi - Instagram-radarindramayu.id

RADARINDRAMAYU.ID - Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi mengunjungi Desa Sewo, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang hingga ke perbatasan Kabupaten Indramayu.

Saat berkunjung ke daerah tersebut, Kang Dedi Mulyadi sempat melakukan sawer kepada para penyapu koin atau pengalap tawur.

Kemudian bertanya mengenai alasan pengendara sampai harus sawer koin di Jembatan Sewo tersebut.

"Tolak bala kejadian 1974, tabur receh lanjut hingga kini," tulis Kang Dedi Mulyadi pada unggahannya, Sabtu, 13, April 2024.

BACA JUGA:Masih Suasana Idul Fitri, Malah Tawuran di Kalitanjung Cirebon, 1 Pemuda dalam Kondisi Mabuk Diamankan

Menurutnya, tradisi dan keyakinan masyarakat di Jembatan Sungai Sewo tersebut ternyata berlanjut menjadi kebiasaan hingga saat ini.

"Ini tradisi mengerikan juga sih. Tapi agak mendingnya, sekarang tuh ini sudah bukan jalur padat karena ada tol," katanya.

Berbeda kondisinya sebelum ada Jalan Tol Cipali, jalur ini sangat padat dan tentunya akan berbahaya untuk para penyapu koin maupun pengendara.

"Jadi kalau bekum ada tol, mungkin jalur ini sangat berbahaya. Disebutnya jalur satu, mobil besar lewat sini, bus malam lewat sini. Kalau sekarang sudah relatif jalurnya agak landai, tidak seperti dulu lagi," tuturnya.

BACA JUGA:Pengalap Tawur Jembatan Sewo dan Mitos Saidah Saeni hingga Kecelakaan Rombongan Transmigrasi

Oleh karena itu, Kang Dedi Mulyadi mengaku tidak sepakat dengan pernyataan bahwa jalan tol mematikan perekonomian.

Baginya, keberadaan jalan tol justru menyelesaikan permasalahan. Termasuk dari sisi keselamatan lalu lintas.

"Justru jalan tol menyelesaikan problem. Kalau tidak ada tol, kebayang kan bagaimana berbagai peristiwa mengerikan terjadi di sini," ungkapnya.

Soal adanya pengalap tawur, KDM -sapaan akrabnya- berpandangan bahwa tradisi tersebut bermula dari tolak bala.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: