Masyarakat Gantar Tak Berminat Sekolahkan Anaknya ke Al Zaytun, Ini Alasannya

Masyarakat Gantar Tak Berminat Sekolahkan Anaknya ke Al Zaytun, Ini Alasannya

TERDEKAT – UPTD SD Negeri Balir menjadi salah satu sekolag terdekat dengan pintu gerbang utama Mahad Al Zaytun. Tapi lulusannya tidak ada yang melanjutkan pendidikan ke Ponpes yang berlokasi di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar itu.-KHOLIL IBRAHIM-RADAR INDRAMAYU

GANTAR, RADARINDRAMAYU.ID  – Mahad Al Zaytun diklaim memiliki ribuan santri. Mereka juga merupakan para pelajar yang menempuh pendidikan di sejumlah sekolah. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan SMK Mahad Al Zaytun.

Meski didera kisruh berkepanjangan, peserta didik di lembaga pendidikan dibawah naungan Yasayan Pendidikan Indonesia (YPI) itu malah terus bertambah.

Tentu saja, ketertarikan orang tua murid menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren yang berlokasi di Blok Sandrem, Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar itu bukan tanpa sebab.

Gedung sekolah mentereng, modern, fasilitas lengkap, SDM pendidik berkualitas ditambah jaminan mencetak lulusan berprestasi dan berkompeten menjadi alasannya.

BACA JUGA:Aktivis FIM Dorong Tegakkan Hukum tanpa Pandang Bulu

BACA JUGA:Tekan Angka Stunting, Pj Sekda Ajak Steakholder untuk Tingkatkan Koodinasi dan Kembangkan Inovasi

Tapi ibarat peribahasa gajah dipelupuk mata tak tampak, semut diseberang lautan kelihatan.

Semua keunggulan itu hanya diminati oleh orang tua wali murid dari luar daerah bahkan mancanegara.

Sementara masyarakat yang berada di sekitar Mahad Al Zaytun rupanya tak tertarik untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sana.

Warga khususnya di Desa Mekarjaya dan sekiitarnya lebih memilih menitipkan anaknya ke sekolah-sekolah umum diluar Mahad Al Zaytun.

BACA JUGA:Ada Lowongan Guru Nih, di Kampus Hijau Kaplongan Indramayu. Buruan Daftar!

BACA JUGA:Hadiri Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional, Wapres Ma'ruf Amin: Keluarga Kunci Atasi Stunting

Hal itu dibenarkan Kepala UPTD SD Negeri Balir, Sri Susilowati.

Dari sebanyak 20 lulusan tahun pelajaran 2022/2023, tidak ada satupun yang melanjutkan pendidikan ke MTs Al Zaytun.

Padahal jarak antara SD Negeri Balir dengan pintu gerbang utama Mahad Al Zaytun tak terlalu jauh, hanya sekitar 1 kilometer.

Menjadi SD yang lokasinya paling dekat dengan ponpes pimpinan Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang alias Syaikh Panji Gumilang itu.

“Ya, gak ada. Tidak sekarang saja, tahun-tahun sebelumnya juga gak ada yang lanjut sekolah ke Al Zaytun,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

BACA JUGA:Ganjar Pranowo Raih Tanda Kehormatan Tertinggi Satyalancana Wira Karya Tahun 2023

BACA JUGA:Tingkatkan Kesehatan Balita, Integrated Terminal Jakarta Raih Penghargaan Padmamitra Award

Selama 6 tahun menjadi kepala sekolah, Sri Susilowati juga mengaku tidak pernah didatangi pihak sekolah Mahad Al Zaytun untuk sekedar memberikan brosur promosi atau sosialisasi penerimaan peserta didik baru.

Ia mengungkapkan, salah satu faktor tidak berminatnya orang tua menyekolahkan anaknya ke Mahad Al Zaytun adalah karena biaya.

Sudah menjadi rahasia umum, untuk diterima menjadi santri di Ponpes terbesar se-Asia Tenggara itu orang tua harus menyediakan biaya sangat besar.

“Sementara, masyarakat sini kan mayoritas dari keluarga kurang mampu. Petani, buruh. Pinginnya sekolah buat anaknya itu ya yang gratis atau murah,” ucapnya.

BACA JUGA:Ganjar Pranowo Raih Tanda Kehormatan Tertinggi Satyalancana Wira Karya Tahun 2023

BACA JUGA:Tingkatkan Kesehatan Balita, Integrated Terminal Jakarta Raih Penghargaan Padmamitra Award

Ha itu dibenarkan Kepala UPTD SD Walahar, Edy Effendy. Bagi masyarakat di Kecamatan Gantar yang mayoritas berprofesi sebagai buruh tani, menyekolahkan anaknya ke Al Zaytun ibarat mimpi.

“Ya tadi, masalahnya kan mungkin biaya. Tapi kalaupun orang sini yang berada juga belum tentu minat ya. Situasinya lagi seperti ini, Al Zaytun terus-terusan disorot,” ucapnya.

Iapun memastikan, semua lulusan SD di wilayah Kecamatan Gantar tidak ada yang melanjutkan sekolah ke Al Zaytun.

Malah sebaliknya, ada beberapa pekerja atau eks karyawan di Al Zaytun yang justru menyekolahkan anaknya di SD Negeri. Itupun sudah duduk di kelas tinggi.

BACA JUGA:Jadwal Liga 1 2023/2024 Pekan Kedua, Ada Laga Berat Persib vs Arema

“Saya sudah mengecek teman-teman kepala SD, tidak ada lulusan yang lanjut ke sana. Kalau yang dari pekerja atau mantan pegawai Al Zaytun sekolahnya di SDN sih ada beberapa,” ungkapnya.

Sebelumnya, soal biaya pendidikan yang mahal itu diakui sendiri oleh Syaikh Panji Gumilang.

Biaya masuk atau menjadi santri Mahad k Al Zaytun tidak murah. Yakni sekitar USD 3.500 atau dalam kurs Rupiah mencapai Rp52,5 juta dan dibayar di depan.

Walaupun terlihat mahal dan besar, ternyata uang ini tidak bisa mencukupi kebutuhan satu tahun masing-masing santri.

Karenanya, dilakukan lah berbagai kegiatan ekonomi dan usaha. Sehingga dapat mencukupi kegiatan pendidikan dan ekspansi yang dilakukan.

BACA JUGA:Hari Keluarga Nasional, Wapres RI Kunjungi Pembangunan Perumahan bagi Keluarga Berisiko Stunting

Panji Gumilang menuturkan, masyarakat yang tidak tahu Al Zaytun, tentu akan sulit memahami bagaimana kemandirian pesantren mampu mencukupi kegiatannya.

Termasuk akan bertanya-tanya dari mana sumber dana Al Zaytun sesungguhnya. Padahal, semua itu dibangun atas dasar kemandirian dan kegiatan ekonomi yang dilakukan.

Menurut Syekh Panji Gumilang, setiap tahunnya target penerimaan santri baru adalah 750 orang. Sedangkan total yang ada di dalam Mahad sekitar 5 ribuan. “Target santri 750 setiap tahun yang baru,” katanya.

Kendati demikian yang mengherankan adalah jumlah santri yang masuk untuk tahun ini, justru meningkat pesat di tengah isu yang menyatakan Mahad Al Zaytun sesat hingga menyimpang.

Tentu saja, penerimaan santri baru Mahad Al Zaytun tersebut tidak disangka-sangka, karena sudah ada beberapa rekomendasi dan fatwa yang menyatakan haram hukumnya memasukan anak ke Al Zaytun.

Dari target santri baru 750, tetapi yang mendaftar mencapai 1.030 orang. Kondisi itu, diakui membuat syekh juga heran. “Begitu ramai naik, kami juga heran. 1.030. Naik apa tidak itu?” kata Syekh Panji Gumilang mengungkapkan keheranannya. (kho)

BACA JUGA:Angin Puting Beliung Rusak Sejumlah Rumah dan Bangunan di Widasari Kabupaten Indramayu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: