Komunitas DESBUMI Indramayu Dilatih Cegah Ekstremisme, Lindungi Pekerja Migran

Komunitas DESBUMI Indramayu Dilatih Cegah Ekstremisme, Lindungi Pekerja Migran

Foto bersama dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan Ektremisme Berbasis Kekerasan untuk Komunitas DESBUMI Indramayu, di Grand Trisula Hotel, Senin, 25 November 2024. --radarindramayu.id

RADARINDRAMAYU.ID – Dalam upaya melindungi pekerja migran Indonesia (PMI) dari ancaman ekstremisme berbasis kekerasan, Migrant CARE bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Indramayu, BNPT, dan BP2MI, menggelar sosialisasi pencegahan ekstremisme di Grand Trisula Hotel. 

Kegiatan ini diikuti oleh anggota DESBUMI (Desa Peduli Buruh Migran) dari 8 desa di Indramayu, yaitu: Perwakilan dari DESBUMI Juntinyuat 2 orang, DESBUMI Juntiweden 2 orang, DESBUMI Tinumpuk 2 orang, DESBUMI Segeran 2 orang, DESBUMI Kalianyar 2 orang, DESBUMI Lohbener 2 orang, DESBUMI Majasih 3 orang, dan DESBUMI Jatisawit 3 orang. 

Turut hadir juga para organisasi terkait, yaitu: Serikat Buruh Migran Indonesia Kabupaten Indramayu, Koalisi Perempuan Indonesia Kabupaten Indramayu, Women’s March Kabupaten Indramayu, Selendang Puan Kabupaten Indramayu, Keluarga Migran Indonesia Kabupaten Indramayu, Pengurus Cabang Fatayat NU Kabupaten Indramayu, Lakpesdam PCNU Kabupaten Indramayu.

Kemudian diikuti oleh masing-masing satu orang perwakilan dari pemerintah desa di 9 Desa, yaitu: Juntinyuat, Juntiweden, Tinumpuk, Segeran, Kalianyar, Lohbener, Majasih, Jatisawit, dan Majasari. 


Pembukaan kegiatan oleh BP2MI, Migrant CARE Pusat, BNPT, Disnaker Indramayu, di Grand Trisula Hotel, Senin 25 November 2024. --

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kabupaten Indramayu, Asep Kurniawan, mengapresiasi inisiatif Migrant CARE dalam menyelenggarakan pelatihan ini. 

“Kami sangat mendukung kegiatan ini, mengingat tingginya jumlah PMI asal Indramayu,” ujar Asep.

Muhammad Santosa, Koordinator Migrant CARE Indramayu, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk membekali anggota DESBUMI dengan pengetahuan, dan keterampilan dalam mencegah penyebaran paham radikalisme di kalangan PMI. 

“PMI sering menjadi target kelompok ekstremis karena mereka memiliki waktu luang yang banyak saat bekerja di luar negeri (terutama di Hongkong). Mereka kemudian mencari informasi di media sosial dan terpapar konten-konten radikal,” kata Santosa.

BACA JUGA:MAN 1 Indramayu Ajak Para Guru Tingkatkan Kompetensi dan Kuasai Teknologi

Pria yang akrab disapa Santos itu juga mencontohkan kasus seorang PMI asal Jawa Tengah, yang ditangkap Densus 88 karena terlibat pendanaan jaringan terorisme. 

“Ini menunjukkan betapa pentingnya kita memberikan pemahaman kepada PMI, tentang bahaya ekstremisme,” tegasnya.

Anastasia Savitri Wisnu Wardhani dari Migrant CARE pusat, menambahkan bahwa, pekerja migran tidak hanya rentan terhadap eksploitasi dan pelanggaran hak asasi manusia, tetapi juga menjadi sasaran kelompok ekstremis. 

“Data dari BNPT menunjukkan bahwa jumlah pekerja migran yang terpapar ekstremisme cukup tinggi. Pada tahun 2023 ada 94 orang,” kata Anastasia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: