Mi Ragit, Kuliner Khas Indramayu yang Melegenda
Muhammad Iman mengemas Mi Ragit sebelum dijual kepada pelanggan, Minggu (8/3). Mi Ragit adalah kuliner khas Ramadan di Kabupaten Indramayu. -Anang Syahroni-radarindramayu
INDRAMAYU, RADARINDRAMAYU.ID – Kabupaten Indramayu memiliki beragam kuliner khas yang muncul pada momen tertentu. Salah satunya adalah Mi Ragit, makanan tradisional yang biasanya hanya dijumpai saat bulan suci Ramadan.
Hingga kini, kuliner tersebut masih tetap eksis berkat tangan terampil Muhammad Iman (52), warga Komplek Perumahan Bumi Dermayu Indramayu (BDI) 3, Desa Tambak, Kecamatan Indramayu.
Setiap hari sekitar pukul 12.00, aroma harum kuah Mi Ragit yang dimasak Iman mulai tercium di sekitar lingkungan perumahan. Kuah santan yang dimasak dengan berbagai rempah pilihan menghasilkan aroma yang menggugah selera.
Terlebih ketika disajikan dengan taburan udang kering dan irisan telur. Kombinasi tersebut membuat Mi Ragit menjadi menu yang cocok untuk berbuka puasa.
BACA JUGA:Yamaha Hadirkan Layanan Siaga dan Promo Menarik Sambut Libur Lebaran 2026
Iman mengatakan, ia tidak mengetahui secara pasti sejak kapan Mi Ragit mulai dikenal masyarakat Indramayu. Namun, resep makanan tersebut diwariskan secara turun-temurun di keluarganya dan identik dengan hidangan khas Ramadan.
“Kalau sejak kapan persisnya, saya juga tidak tahu. Tapi resep Mi Ragit ini sudah turun-temurun dari keluarga. Biasanya memang hanya dibuat saat bulan Ramadan, jadi sudah dikenal sebagai kuliner khas Ramadan di Indramayu,” ujar Iman, Minggu (8/3).
Ia menjelaskan, keahliannya membuat Mi Ragit diperoleh dari orang tuanya. Resep tersebut terus dijaga, termasuk cara membuat kuah santan yang gurih dengan aroma rempah yang khas serta taburan udang kecil yang menjadi ciri utama hidangan tersebut.
“Bisa dibilang ini warisan keluarga. Alhamdulillah, sampai sekarang masih terus kami buat agar masyarakat Indramayu tetap bisa menikmati Mi Ragit,” katanya.
BACA JUGA:Sanggar Griya Primitif Tukdana Konsisten Kembangkan Bakat Melukis Anak-anak
Iman mengaku telah berjualan Mi Ragit selama sekitar 14 tahun setiap bulan Ramadan. Dalam sehari, ia mampu mengolah sekitar empat kilogram tepung yang dapat menghasilkan sekitar 50 porsi Mi Ragit.
Mi Ragit sendiri dibuat dari tepung yang dicampur dengan telur, sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal. Sementara kuahnya berasal dari santan kelapa yang dimasak dengan berbagai rempah seperti bawang putih dan daun jeruk.
Menariknya, Iman mengaku tidak menggunakan penyedap rasa, sehingga cita rasa gurihnya berasal dari bumbu alami serta taburan udang kecil.
Harga seporsi Mi Ragit terbilang ramah di kantong. Dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp7.000, masyarakat sudah bisa menikmati satu porsi Mi Ragit hangat untuk menu berbuka puasa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

