Selain itu, kiper Indonesia harus berani keluar dari gawang untuk meninju bola, sebab Arab Saudi diyakini akan banyak mengincar skema sepak pojok dengan tabrakan fisik di area enam yard.
Tidak kalah penting, Indonesia juga harus meminimalisasi pelanggaran di area berbahaya.
Jangan memberi Arab Saudi peluang tendangan bebas di dekat kotak penalti, karena di situlah kepiawaian Jover terlihat jelas dengan eksekusi bola yang diarahkan ke titik tertentu.
Gelandang Indonesia harus lebih pintar menutup ruang tanpa melakukan tekel sembrono.
BACA JUGA:Semakin Dikagumi Media Prancis! Verdonk Jadi Senjata Rahasia Mematikan LOSC!
Dalam situasi sepak pojok, komunikasi antar pemain juga krusial, jangan sampai ada kebingungan siapa yang harus menjaga siapa.
Dalam sejarahnya, kelemahan Indonesia sering muncul ketika pemain kehilangan fokus di menit-menit akhir.
Dengan lawan yang kini diperkuat pakar bola mati, hal itu bisa menjadi bumerang.
Strategi tambahan adalah dengan memanfaatkan kecepatan serangan balik setelah bertahan dari set piece.
Jika Indonesia mampu mencuri bola dari situasi bola mati lawan, peluang untuk melancarkan counter attack terbuka lebar karena biasanya tim yang menyerang dengan banyak pemain akan meninggalkan celah di belakang.
Jadi, bukan hanya bertahan, tetapi Indonesia juga bisa memanfaatkan kelemahan transisi Arab Saudi ketika terlalu fokus pada eksekusi set piece.
Dengan kombinasi fokus, disiplin, komunikasi, dan pemanfaatan serangan balik, Indonesia masih punya peluang untuk meredam kehebatan strategi Jover di lapangan.