Dua Tahun Hilang Kontak, PMI Asal Segeran Kidul Meninggal di Arab Saudi

Dua Tahun Hilang Kontak, PMI Asal Segeran Kidul Meninggal di Arab Saudi

TINGGALKAN DUKA: Makfuroh (29) menunjukan foto kakanya Nur Watirih (49) yang meninggal dunia diduga dianiaya majikannya, saat ini korban sudah dimakamkan di Arab Saudi, Senin (9/3/2026).-Anang Syahroni-radarindramayu

INDRAMAYU, RADARINDRAMAYU.ID – Nasib tragis menimpa Nur Watirih (49), Pekerja Migran Indonesia (PMI) nonprosedural asal Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, yang ditemukan meninggal dunia dekat tempat sampah di sekitar apartemen tempatnya bekerja di Arab Saudi, pada 9 Februari 2026, setelah dua tahun hilang kontak dengan keluarga.

Kabar kematian Nur Watirih pun menyisakan pukulan dan meninggalkan duka mendalam bagi pihak keluarga, apalagi saat ditemukan, kondisi jenazahnya diketahui mengalami luka parah yang diduga akibat dianiaya oleh majikan perempuannya.

Kepada awak media, Adik korban, Makfuroh (29) mengungkapkan bahwa kakaknya tersebut berangkat bekerja ke Arab Saudi pada tahun 2022. Ditahun pertama bekerja, keluarga masih bisa berkomunikasi dengan lancar, Namun saat tahun kedua, komunikasi keluarga dengan Nur Watirih tiba-tiba terputus total dan tidak menerima kabar apapun.

Hingga akhirnya pada 15 Februari 2026, keluarga mendapat informasi dari pihak terkait bahwa Nur Watirih telah meninggal dunia di Arab Saudi pada 9 Februari 2026, dan telah di makanan di Arab Saudi, pada Jum'at 6 Maret 2026.

BACA JUGA:Siap Sambut Arus Mudik, Dishub Posko Penghitungan Kendaraan Berada di Posko Terpadu Unit PPKB Losarang

“Dua tahun tak ada kabar, tiba-tiba mendapat kabar kalau kakak sudah meninggal di Arab Saudi. Katanya sih karena penganiayaan oleh majikan perempuannya, ditahun pertama juga sempat kirim uang tiga kali sampai akhirnya tidak ada kabar,” ujar Makfuroh saat ditemui di kediamannya pada Senin (9/3/2026).

Ia menyebutkan berdasarkan informasi yang diterima keluarga, majikan perempuan korban telah diamankan oleh kepolisian Arab Saudi dan saat ini masih menjalani proses penyelidikan, dan ka susunya masih di perdalam.

“Kami keluarga ikhlas ini memang takdir kakak saya meninggal dan dimakamkan di sana (Arab Saudi, red). Jika kematiannya karena penganiayaan kami ingin pelaku dihukum sesuai perbuatannya,” jelas Makfuroh.

Sementara itu, Kuasa hukum keluarga korban, Toni RM, menyatakan bahwa pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh khusus untuk memantau perkembangan penanganan kasus yang menimpa korban Nur Watirih.

BACA JUGA:ASN dan Warga Biasa Ramai-ramai Serbu Lokasi GPM

“Saya sudah berkomunikasi dengan pihak KBRI semalam. Untuk memastikan proses hukumnya sampai sejauh mana, ternyata masih di kepolisian itu artinya belum sampai ke kejaksaan,” terangnya.

Ia menjelaskan berdasarkan keterangan dari pemandi jenazah yang disampaikan kepada keluarga korban alami luka parah terutama di bagian wajah, yang diduga dari senjata tajam. Hingga korban ditemukan di dekat tempat sampah dekat apartemen majikannya.

“Keluarga korban minta agar pelaku dijerat hukuman berat, dorong hukum qisas atau balasan seimbang jika terbukti terjadi pembunuhan, demi keadilan sekaligus pembelajaran agar tidak ada lagi pekerja migran yang alami perlakuan serupa,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait