Dosen ITB Penelitian di Desa Cangkring
INDRAMAYU-Tim dari Pusat Pemberdayaan Desa (P2D) ITB terdiri dari dosen dan peneliti dari lintas fakultas melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cangkring, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat pada pertengahan November 2021 lalu.
Beberapa dosen yang terlibat pada pengabdian masyarakat tersebut diantaranya Dr Eng Very Susanto dari Teknik Geologi-FITB, Dr Endra Susila (Teknik Sipil), dan Dr Taufikurahman (Biologi-SITH).
Desa Cangkring dipilih sebagai lokasi pengabdian masyarakat mengingat lokasinya berada pada lingkar utama ITB kampus Cirebon dan masih tergolong desa tertinggal.
Diharapkan kehadiran kampus ITB dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitarnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan tindaklanjut dari diskusi sebelumnya dengan Kepala Desa Cangkring, Moch. Said SH yang diselenggarakan secara virtual.
Pada kesempatan diskusi virtual tersebut, Said menyampaikan problem yang dihadapi desanya terkait menurunnya hasil budi daya tambak beberapa tahun terakhir.
“Mudah-mudahan P2D dapat memberikan pendampingan, bagaimana agar produktivitas budidaya tambak di desa kami meningkat kembali,” tuturnya.
“Budi daya tambak di Desa Cangkring hingga saat ini dijalankan secara konvensional, hanya mengandalkan pemberian pakan sirkulasi air yang teratur. Permasalahannya terdapat sungai yang saat ini tidak berfungsi, sehingga sirkulasi air berjalan tidak lancar,” lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut diskusi tersebut, tim P2D yang dipimpin Dr Eng Ir Very Susanto melakukan kegiatan investigasi lapangan pada pertengahan November lalu.
Pada dasarnya kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cangkring dilaksanakan dalam dua tahap kegiatan, yaitu pertama kegiatan survey dan pembuatan desain jembatan pendukung rencana normalisasi sungai, dan kedua, pendampingan agar rencana tersebut terimplementasi oleh swadaya masyarakat.
“Sebenarnya desa itu kan ada anggaran. Pihak ketiga juga dapat diundang untuk pendanaan. Kita menyumbang ide dan desainnya. Kita ajak diskusi pihak desa dan petani tambak untuk memikirkan bersama-sama solusinya. Kerapkali pembangunan infrastruktur selalu dianggap wah dan mahal, padahal kita bisa membuat yang lebih sederhana dan biaya yang lebih rendah. Gotong royong. Ini yang kita lakukan. Ini yang kita tawarkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dosen pada Teknik Geologi ITB ini menjelaskan bahwa tujuan akhir dari kegiatan ini adalah terwujudnya desa yang berdaya dan mandiri.
Ia mengatakan dengan pendampingan yang tepat dari para pakar dan praktisi dibidangnya, potensi ekonomi desa dapat diekplorasi lebih lanjut. “Selama ini pengelolaan dan manajemen budi daya tambak masih konvensional. Hasil budi daya tambak, rumput laut, dan hasil laut dipasarkan langsung, belum ada yang diolah. Potensi ekspor belum digali, potensi wisata belum dikembangkan. Banyak potensi desa yang belum dioptimalkan. Dengan sinergi desa dan perguruan tinggi, diharapkan semakin banyak desa yang berkembang menjadi desa mandiri dan berdaya,” pungkasnya.
Pada kesempatan terpisah, Moch Said mengatakan, bahwa sungai yang hendak dinormalisasi fungsi dan aliran airnya tersebut mensuplai air pada lebih dari 150 Ha tambak di desa tersebut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

