Dari Ternak Ayam Petelur, Carnita Bisa Raup Jutaan Rupiah per Hari

Dari Ternak Ayam Petelur, Carnita Bisa Raup Jutaan Rupiah per Hari

MENJANJIKAN: Carnita, memberi pakan ayam di kandang miliknya di Desa Sindang, Kabupaten Indramayu, Rabu (21/1/2026).-Anang Syahroni-radarindramayu

INDRAMAYU, RADARINDRAMAYU.ID – Usaha ternak ayam petelur menjadi peluang bisnis menjanjikan bagi masyarakat pedesaan. Hal tersebut dibuktikan oleh Carnita, peternak ayam petelur asal Desa Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang berhasil meraup omzet jutaan rupiah per hari dari usaha ternak yang telah gelutinya selama lebih dari satu tahun terakhir.

Menariknya, di balik keberhasilannya mengembangkan usaha peternakan tersebut, Carnita juga mengemban amanah sebagai Kepala Desa Sindang.

Di tengah kesibukannya melayani masyarakat, dirinya tetap mampu mengelola usaha ternak ayam petelur tanpa mengganggu tugas utamanya sebagai pelayan masyarakat di desanya.

Carnita mengatakan, usaha ternak ayam petelur tersebut dirintis dengan modal awal sekitar Rp120 juta yang berasal dari tabungan pribadinya itu digunakan untuk pembangunan kandang, pembelian bibit ayam, serta pemenuhan kebutuhan pakan selama 40 hari pertama masa pemeliharaan.

BACA JUGA:Career Explorer SMAN 1 Sindang, Langkah Siapkan Siswa Masuk Perguruan Tinggi Impian

Dalam menjalankan usaha tersebut, Carnita dibantu oleh sang istri, sehingga pengelolaan peternakan dapat berjalan secara optimal. Usaha ternak ayam petelur ini pun menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup signifikan sekaligus inspirasi bagi warga desa.

“Alhamdulillah, sekarang jumlah ayam petelur di kandangnya hampir mencapai 2.000 ekor dan telah memasuki masa produksi optimal. Produksi telur per hari sejak minggu kemarin mencapai sekitar 100 kilogram, panen telur dilakukan satu kali dalam sehari,” ujar Carnita, saat ditemui di lokasi ternaknya, di kawasan Embung Jangkar, Desa Sindang, Rabu (21/1/2026).

Bertambahnya jumlah ayam, disampaikan Carnita berdampak langsung pada peningkatan produksi telur. Saat ini, hasil panen telur mencapai hampir satu kuintal per hari, dengan proses panen dilakukan satu kali setiap harinya.

Sedangkan untuk pemasaran, masih memprioritaskan penjualan langsung kepada masyarakat sekitar desa. Langkah ini dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga sekaligus menjaga kestabilan harga telur di tingkat lokal.

BACA JUGA:Langsung Jadi Idola, Toprak Razgatlıoğlu Bikin Kagum Pelajar SMK Negeri 39 Jakarta

“Terkait penjualan, pemasarannya masih kami prioritaskan kepada warga sini. Kadang memang ada tengkulak, tapi tidak rutin. Kami lebih mengutamakan penjualan langsung ke konsumen,” terangnya.

Sejalan dengan pola pemasaran tersebut, harga telur yang dijual juga disesuaikan dengan kondisi pasar. Saat ini, telur ia pasarkan dengan harga berkisar antara Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram. Meski harga di pasaran dapat mencapai Rp30.000 per kilogram.

“Kami berusaha menjual di bawah harga pasar agar tetap terjangkau oleh masyarakat, harga jual sekitar Rp25.000 per kilogram, omzet sekitar Rp2,5 juta per hari keuntungan bersih yang diperoleh mencapai sekitar 40 persen setelah dikurangi biaya operasional, termasuk pakan dan perawatan, ya sekitar Rp 1 juta per hari,” jelas Carnita.

Dalam proses pemeliharaan, pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore hari. Waktu pemberian pakan disesuaikan dengan kondisi cuaca agar kesehatan ayam tetap terjaga.

BACA JUGA:Dari Tanah Suci Al-Aqsha, Ketua PUI Indramayu Sapa Bupati Lucky Hakim via Video Call

Sementara untuk menjaga kesehatan ayam, vaksin diberikan saat usia ayam memasuki 16 hingga 17 minggu atau ketika mulai memasuki fase bertelur. Setelah itu, perawatan dilanjutkan dengan pemberian jamu alami seperti kunyit, temulawak, dan daun kelor.

Menurut Carnita, tingkat kematian ayam tergolong sangat rendah, dari ratusan ayam yang dipelihara, hanya sebagian kecil yang mati, terutama pada fase awal pemeliharaan sebelum vaksin diberikan. Ia menilai usaha ternak ayam petelur relatif sederhana dan tidak terlalu menyita waktu, sehingga cocok dijalankan oleh masyarakat yang memiliki pekerjaan utama lain.

“Alasan kami memilih ternak ayam petelur karena lebih simpel dan tidak terlalu menyita waktu. Pakan bisa disiasati pagi sebelum berangkat kerja dan sore setelah pulang,” katanya.

Melalui usaha tersebut, Carnita berharap peternakan ayam petelur dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda desa agar berani memulai usaha mandiri yang berkelanjutan.

BACA JUGA:Buka Semangat 2026, Yamaha WR155 R Tampil Ikonik dengan Desain Body dan Grafis Anyar

“Usaha ini kami harapkan bisa menjadi motivasi bagi generasi muda yang masih bingung mencari peluang usaha. Peternakan ayam petelur sebenarnya cukup menjanjikan,” tutupnya. (oni)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: