Hal ini juga diharapkan bisa mendorong munculnya talenta-talenta baru dari dalam negeri, sehingga timnas Indonesia bisa mendapatkan pasokan pemain berkualitas di masa depan.
Selain itu, regulasi pemain muda juga tetap menjadi perhatian utama.
Di musim lalu, setiap klub diwajibkan menurunkan minimal satu pemain muda (U-22) sebagai starter yang bermain minimal 45 menit.
Regulasi ini diharapkan bisa terus mendorong pembinaan pemain muda, sehingga tidak ada lagi ketergantungan berlebihan pada pemain asing atau senior.
Dengan demikian, regenerasi pemain bisa berjalan lancar dan timnas Indonesia bisa terus mendapatkan pemain muda yang siap bersaing di level internasional.
Di sisi lain, meski kuota pemain asing tidak bertambah, klub-klub tetap diizinkan untuk merekrut pemain asing dari berbagai negara, tanpa ada pembatasan dari kawasan Asia atau ASEAN.
Hal ini diharapkan bisa memperkaya kualitas kompetisi, karena klub bisa merekrut pemain asing dari negara-negara dengan kualitas sepak bola yang lebih tinggi.
BACA JUGA:Comeback ke Timnas Indonesia, Stefano Lilipaly: Main atau Tidak, Saya Akan Kasih Maksimal!
Namun, klub tetap harus selektif, karena tidak semua pemain asing bisa memberikan kontribusi positif bagi tim.
Pada akhirnya, keputusan untuk tidak menambah kuota pemain asing di Liga 1 musim depan merupakan langkah yang cukup berani.
PSSI dan PT LIB tampaknya ingin menjaga keseimbangan antara pemain lokal dan asing, sekaligus tetap membuka ruang bagi klub untuk bersaing di level yang lebih tinggi.
Dengan penekanan pada kualitas pemain asing, regulasi pemain muda, dan harapan adanya kompetisi tambahan, sepak bola Indonesia diharapkan bisa terus berkembang dan meraih prestasi di kancah regional maupun internasional.