Sebagian penduduk pedesaan di Bumi Wiralodra ramai-ramai menggelar tradisi selamatan dengan membuat kue cimplo (apem, red). Seperti dilakukan oleh orang-orang di Wilayah Kecamatan Anjatan. Bagaimana suasananya?
KHOLIL IBRAHIM, Anjatan
MEMBUAT kue cimplo merupakan adat yang terus dilestarikan warga di Kecamatan Anjatan. Terutama bila ada salah satu keluarga yang lahir di bulan bala.
Maksud dan tujuannya tidak lain untuk memberikan keselamatan anggota keluarga pada bulan bala yang konon merupakan bulan yang penuh dengan bahaya.
“Tradisini masyarakat sini membuat cimplo itu kalau ada salah satu anggota keluarga yang lahir dibulan Bala. Ini untuk keselamatannya agar tidak cilaka di bulan kelahirannya. Tapi karena sudah adat, hampir semua warga membuat kue ini,” ungkap Midi, tokoh masyarakat Desa Anjatan Utara kepada Radar, belum lama ini.
Meski di tengah pandemi Covid-19, tradisi membuat kue cimplo tetap dipertahankan. Malah, selain niat bersedekah warga juga mendoakan supaya wabah virus corona segera berakhir. “Apalagi sekarang ada wabah corona, kita mendoakan semua keluarga dan masyarakat selamat. Wabah secepatnya selesai,” lanjutnya.
Soal sejarah tradisi membuat cimplo, kakek lima cucu ini anak ini mengaku tidak tahu. Hanya saja, dia mengaku tradisi tersebut sudah berlangsung sejak orang tua terdahulu.
Makna penting dari proses pembuatan kue Cimplo ini adalah dapat mengeratkan tali silaturrahmi dengan sesama tetangga dan warga lainnya.
Apalagi, sebelum pembagian kue empuk berwarna putih dengan bumbu gula kelapa ini, terlebih dahulu dilaksanakan doa bersama.
“Doa bareng-bareng mohon keselamatan di bulan bala ini. Lalu juga makan kue cimplo bersama, terus dibagikan kepada warga. Intinya mempererat silaturahmi,” tuturnya. (*)