INDRAMAYU-Tanggul kritis aliran Sungai Cipanas di Desa Rajaiyang, Kecamatan Losarang diperbaiki. Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Kecamatan Losarang menggerakkan warga untuk kerja bakti melakukan langkah darurat. Agar longsornya tanggul tidak memicu terjadinya banjir.
Satu unit alat berat berupa excavator juga dikerahkan untuk mendukung upaya tanggap darurat tersebut.
Gotong royong dipimpin langsung Camat Losarang, Opik Hidayat SSos didampingi Kapolsek Losarang Kompol H Mashudi SH MH serta Danramil 1611/Losarang Kapt Arh Supangkat, Sabtu (20/11).
Tanggul kritis di Desa Rajaiyang memang terbilang parah. Mengalami longsor sepanjang sekitar 10 meter dengan kedalam 5-6 meter dari ketinggian tanggul normal.
Longsornya tanggul membuat pintu air ambruk dan berpotensi jebol jika terjadi kenaikan debit air serta hujan dengan intensitas tinggi.
“Kami bersama warga melaksanakan gotong royong sebagai upaya tanggap darurat perbaikan tanggul kritis agar tidak jebol dan mengantisipasi bencana banjir,” kata Camat Opik Hidayat.
Pihaknya berharap, kondisi tanggul kritis di sejumlah titik aliran Sungai Cipanas bisa ditindaklanjuti oleh dinas terkait. Demi menjamin keselamatan warga dari bencana banjir.
Sementara itu, Kapolsek Losarang Kompol H Mashudi SH MH mengatakan, perbaikan darurat yakni dengan melakukan pemasangan pagar gedeg dari material bambu di lokasi tanggul yang longsor. Pengadaannya dari Polsek Losarang dan Camat Losarang.
“Semua daya dan upaya kita kerahkan. Bergotong royong. Ini bentuk kepedulian dan responbilitas kami agar bencana banjir tidak berulang,” kata dia.
Sebelumnya, Kapolsek Mashudi menyampaikan, selain di Desa Rajaiyang, sejumlah titik tanggul di sepanjang aliran Sungai Cipanas wilayah Kecamatan Losarang dilaporkan dalam kondisi rusak dan kritis. Perlu penanganan mendesak untuk mencegah terjadinya bencana banjir kembali terjadi.
Seperti di Desa Puntang. Tepatnya di Blok Surna. Tanggul mengalami retak dipicu oleh sedimentasi bibir Sungai Cipanas.
Kemudian, lokasi lainnya yaitu di belakang Pabrik GII Desa Santing. Selain posisi tanggul yang rendah juga tipis. Potensi terjadinya tanggul jebol ikut dipicu badan Sungai Cipanas yang menikung.
Tingkat elevasi tanah pada tanggul di wilayah tersebut cukup tinggi. Sehingga, tidak sedikit tanggul yang tergerus oleh debit sungai yang cukup tinggi. Di samping itu, kontur tanah di tanggul tersebut sangat mudah terkikis.
Kritisnya dua tanggul di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipanas itu membuat penduduk disana waswas. Khawatir jebol atau air melimpas tatkala debit sungai Cipanas naik. “Berpotensi jebol atau air melimpas saat debit sungai Cipanas tinggi,” kata Kompol Mashudi.
Menurutnya, dampak yang terjadi bila tanggul tersebut jebol, dapat merendam areal pemukiman warga di Desa Santing, Muntur dan Desa Losarang. “Jalur pantura bisa terdampak. Karena jaraknya cukup dekat, sekitar 1,5 kilometer,” ujarnya.