Peduli Masyarakat Pesisir, Gelontorkan 8,9 Ton Beras Paceklik

Selasa 04-01-2022,10:29 WIB
Reporter : Leni Indarti Hasyim
Editor : Leni Indarti Hasyim

Ribuan nelayan di Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur lagi kesulitan ekonomi. Kondisi ini diakibatkan menurunnya pendapatan mereka. Menyusul terjadinya cuaca buruk musim baratan. Musim yang ditangai dengan angin kencang dan gelombagn tinggi di Laut Jawa.

KHOLIL IBRAHIM, Kandanghaur

KONDISI cuaca ekstrem membuat nelayan tak berani melaut. Ditambah lagi dengan bencana rob alias air laut pasang. Mereka pun terpaksa menganggur.

Mengantisipasi terjadinya rawan pangan, KUD Misaya Mina Eretan Wetan menggelontorkan bantuan beras paceklik, Senin (3/1). 

Jumlahnya sebanyak 8,9 ton. Tidak hanya untuk nelayan anggota dan non anggota KUD.

Beras paceklik kualitas premium senilai lebih dari Rp93 juta tersebut juga dibagikan kepada para jompo, imam masjid, para guru ngaji serta karyawan KUD.

Pantauan Radar Indramayu, pembagian beras paceklik bertempat di aula kantor KUD Misaya Mina tersebut berlangsung tertib.

Setiap warga yang datang membawa kupon langsung dicocokan dengan data yang ada. Kemudian membubuhkan cap jempol atau tanda tangan di daftar hadir penerima.

“Beras paceklik ini rutin setiap awal tahun dibagikan. Alhamdulillah, tahun ini kami masih bisa membagikan beras paceklik sebanyak 8,9 ton. Walau di tengah kondisi sulit seperti sekarang ini,” sebut ketua KUD Misaya Mina Eretan Wetan, Rasgianto.

Dia mengakui, hasil produksi tangkapan ikan para nelayan menurun tajam dibanding tahun lalu. Dari Rp13 miliar menjadi Rp10 miliar. Menurunnya pendapatan, membuat jumlah beras paceklik seharusnya juga berkurang.

Namun pihaknya berupaya sekuat tenaga agar jumlahnya tidak terlalu merosot. Pasalnya beban ekonomi masyarakat nelayan sejak pandemi Covid-19 benar-benar ikut terdampak. Mereka sangat membutuhkan bantuan.

Dampak musim baratan, perekonomian nelayan morat marit. Mereka banyak yang nganggur total sehingga kehilangan penghasilan. Para nelayan kesulitan ekonomi bahkan berpengaruh terhadap ketahanan pangan. “Mudah-mudahan beras paceklik ini bisa meringankan beban mereka selama menghadapi musim baratan dan tidak mengalami ancaman rawan pangan,” harap Rasgianto. (*)

Tags :
Kategori :

Terkait