Merawat Ingatan, Kisah di Balik Museum Bandar Cimanuk Indramayu

Merawat Ingatan, Kisah di Balik Museum Bandar Cimanuk Indramayu

KOLEKSI: Pengelolah Museum Bandar Cimanuk (MBC) menunjukan beberapa koleksi museum kepada pengunjung.-ist-radarindramayu

INDRAMAYU, RADARINDRAMAYU.ID – Di sebuah bangunan tua berusia hampir dua abad di Kecamatan Indramayu, ratusan benda peninggalan masa lalu tersimpan rapi, menyimpan cerita tentang siapa masyarakat Indramayu dahulu dan siapa mereka sekarang. Bangunan itu adalah Museum Bandar Cimanuk (MBC), yang hingga kini menjadi satu-satunya museum di Kabupaten Indramayu.

Pengelola sekaligus salah satu pendiri museum, Budiyati Nurahayu, menuturkan bahwa MBC lahir dari inisiatif komunitas yang peduli terhadap sejarah, budaya, dan cagar budaya lokal. Perintisannya dimulai sejak 2005, jauh sebelum museum ini dideklarasikan secara resmi kepada masyarakat Indramayu pada 12 Oktober 2015.

“Kita ini boleh dikatakan sebagai pelestari. Awal kita merintis itu 2005, mensahkan bahwa kita punya museum. Tapi kita bukan yang membuat prasasti, gunting pita—itu sampai sekarang kita belum pernah,” terang Budiyati.

Museum ini bernaung di bawah Yayasan Indramayu Historia Indonesia, dengan Nang Sadewo sebagai ketua yayasan sekaligus kepala museum. Budiyati sendiri menjabat sebagai pembina yayasan sekaligus pengelola dan pendiri museum.

BACA JUGA:Diduga Dari Lilin, Rumah di Desa Cibereng Kebakaran

Gedung yang ditempati MBC bukan bangunan sembarang. Menurut Budiyati, usianya diperkirakan hampir 200 tahun dan saat ini berstatus diduga sebagai cagar budaya.

Bangunan tersebut memiliki riwayat fungsi yang berlapis-lapis, pada era 1830-an dipakai sebagai tempat tinggal atau base camp tentara Belanda, kemudian pada rentang 1880 hingga 1990 berfungsi sebagai rumah tinggal sekaligus kantor pengawas urusan ekonomi di jalur Sungai Cimanuk pada masa kolonial. Selepas kemerdekaan, sekitar tahun 1950-an, bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor jawatan penerangan.

“Karena tempat ini tempat bersejarah, kalau sama kita tidak diperjuangkan untuk dibeli oleh Pemda, dan nanti dipakai oleh kita, ini akan hilang. Jadi kita mengambil tempat yang punya nilai sejarah yang sangat tinggi, dan kita harus menyelamatkannya,” ungkapnya.

Untuk mempertahankan gedung ini, yayasan memperjuangkan agar tanah dan bangunan dibeli oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu menggunakan dana APBD, kemudian dikelola oleh yayasan melalui skema pinjam-pakai dari Bupati. Meski status kepemilikan lahan berada di tangan pemerintah, seluruh biaya pembangunan interior, pemeliharaan, listrik, air, hingga jaringan internet ditanggung mandiri oleh yayasan.

Budiyati menjelaskan Museum ini menyimpan koleksi lintas zaman, mulai dari manuskrip kuno hingga peralatan rumah tangga tradisional. Salah satu koleksi yang memiliki nilai keilmuan tinggi adalah manuskrip tulisan tangan Syekh Abdulmanan, ulama asal Paoman, Indramayu, yang mengajarkan ilmu Tarekat Naqsyabandiyah jalur keilmuan yang sejalan dengan yang diajarkan Sunan Gunung Jati maupun Abah Anom di Tasikmalaya.

BACA JUGA:11 Tahun Dinanti, Ajang Ikonik Yamaha Cup Race di Padang Disaksikan Lebih Dari 5 Ribu Pengunjung !

“Tidak ada koleksi yang tidak menarik. Semuanya punya kualitas, semuanya punya nilai tapi bukan dilihat dari nilai uangnya,” tukasnya.

Ia menjelaskan, nilai ekonomis suatu benda hanya relevan pada saat proses pembelian untuk menambah koleksi. Namun motivasi utamanya adalah nilai ilmu pengetahuan dan sejarah yang bisa diwariskan kepada pelajar dan pengunjung. Karena itu, ia menegaskan MBC diposisikan sebagai wisata edukasi, bukan wisata komersial.

Barang-barang sederhana seperti tungku kayu, kukusan nasi, dan dandang tembaga pun menjadi media edukasi penting bagi generasi yang tidak mengalami langsung era sebelum kompor gas dan penanak nasi listrik hadir.

“Begitu dikasih tahu bahwa ini sejarahnya sebelum ada magic com, orang masak nasi pakai kayak gini itu menjadi nilai yang paling berharga,” kata dia.

BACA JUGA:Kebakaran di Pelabuhan Karangsong Dipicu Korsleting Mesin Pompa Celup

Budiyati mengamati bahwa daya tarik sebuah koleksi sangat bergantung pada pengalaman personal masing-masing pengunjung. Ia mencontohkan, ada pengunjung yang mendadak teringat masa kecilnya ketika melihat televisi hitam-putih di ruang pameran ketika ia harus mengintip tayangan televisi dari jendela tetangga karena keluarganya belum mampu membeli televisi sendiri.

Ada pula pengunjung yang menangis saat melihat tungku kayu dan kukusan tradisional di bagian belakang museum, karena benda itu mengingatkannya pada sang nenek yang dahulu mengasuhnya selagi kedua orang tuanya bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri.

"Padahal kalau kita lihat, buat kita biasa saja. Tapi buat orang-orang tertentu, itu punya nilai sejarah dan kenangan tersendiri,” jelas Budiyani.


Penulis: Mahasiswa PPL di Radar Indramayu

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: