Pedesan Entog Maz Rohim Kuliner Khas Indramayu yang Rasanya Bikin Nagih
Menu kuliner pedesan Entog Maz Rohman.-Anang Syahroni-radarmajalengka
INDRAMAYU, RADARINDRAMAYU.ID — Di balik kelezatan pedesan entog yang kini menjadi buruan para pencinta kuliner, tersimpan kisah perjalanan panjang penuh proses coba-coba.
Warung Pedesan Maz Rohim yang berlokasi di Griya Punduan Kidul Permai Nomor 1, Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, telah berdiri selama sembilan tahun di lokasi tersebut, dan menyimpan cerita asal-usul nama yang tak banyak diketahui pelanggannya.
Usaha ini dikelola oleh Upi (52), istri dari pemilik usaha yang bernama Rohim, sosok yang namanya kini melekat pada identitas warung tersebut.
Bahkan, dari papan nama yang terpasang di pinggir jalan dekat lokasi usaha, mendapati bahwa nama "Pedesan Maz Rohim" kini tidak hanya dikenal sebagai warung makan, tetapi juga telah merambah ke layanan catering, menandakan usaha ini terus berkembang seiring bertambahnya kepercayaan pelanggan.
BACA JUGA:Kemenag Indramayu Kirim Ribuan Peserta Ikuti Zikir dan Doa Kebangsaan
“Sudah lama banget sebenarnya, prosesnya panjang, cuma di sininya itu saya sembilan tahun,” ujarnya.
Menariknya, menu andalan warung ini tidak lahir dari resep pedesan sejak awal. Pemilik yang berasal dari Jawa Tengah, semula menjajakan menu rica-rica, olahan daging berbumbu pedas bertekstur kering tanpa kuah, khas masakan Jawa Tengah. Namun, menu tersebut ternyata asing bagi lidah dan istilah masyarakat Indramayu, yang justru menyebutnya dengan nama "pedesan".
Perlahan, atas permintaan pelanggan yang berulang kali menanyakan mengapa pedesan yang mereka maksud tidak berkuah, mulai menambahkan kuah sedikit demi sedikit ke dalam masakannya.
“Orang yang beli bilang, 'Bu, kok pedesan nggak ada kuahnya, akhirnya kasih kuah sedikit. Beberapa hari kemudian ada yang beli lagi, kuahnya kurang banyak Nah, pada akhirnya jadi seperti ini pedesannya,” jelas Upi.
BACA JUGA:Angklung Menggema Sambut MAXI Yamaha Day 2026 Jawa Barat, Padukan Touring dan Budaya dalam Satu Perjalanan
Dari proses penyesuaian rasa yang berulang inilah, resep pedesan entog berkuah seperti yang dikenal saat ini terbentuk, sekaligus melahirkan nama usaha "Pedesan Maz Rohim", mengikuti nama sang suami sebagai pemilik usaha.
Upi mengungkapkan bahwa keunikan tersebut lahir dari perpaduan bumbu masakan Nusantara Indonesia dengan sentuhan masakan Tionghoa, bukan sekadar bumbu rumahan pada umumnya. Perpaduan inilah yang menurutnya menghasilkan cita rasa khas yang "agak menggigit" dan sulit ditemukan pada pedesan-pedesan lain.
Kualitas rasa ini tidak lahir secara instan. proses memasak pedesan entog membutuhkan waktu total sekitar empat jam, terhitung sejak entog dicacah, dicuci, hingga proses pembuatan bumbu selesai. Sementara proses memasak setelah entog dipotong-potong saja memakan waktu sekitar tiga jam, menggunakan api kecil tanpa bantuan panci presto.
“Pokoknya ini alami dapur, nggak pakai presto, hanya api kecil saja. Bahkan untuk varian sate entog, proses memasaknya bisa mencapai lima jam,” kata Upi.
BACA JUGA:Lebih Dari Satu Dekade, Yamaha Cup Race Kembali Bertandang ke Padang Sumatera Barat !
Salah satu konsumen Pedesan Entog Maz Wahyu Alibas, asal Bekasi ini mengaku rutin mampir ke warung ini setiap kali berkunjung ke wilayah Indramayu. Menurutnya, warung ini menawarkan kombinasi yang sulit ditemukan di tempat lain harga terjangkau, rasa yang enak, serta lingkungan yang bersih dan nyaman.
Ia menilai pedesan sebagai menu yang khas dan tidak temukan di kotanya, ditambah konsistensi rasa sebagai kelebihan utama warung ini dibanding tempat lain yang pernah di kunjungi.
"Kalau di sini, warung Mas Rohim rasanya sudah konsisten. Jadi begitu kita merasakan atau menikmati pedesannya, itu rasanya tetap sama,” tutup Wahyu.
Penulis; Sultan, Zidan, Alleya, Aini mahasiswa PPL di Radar Indramayu.
BACA JUGA:Bersama BRI, Petani Kopi Asal Batang Sajikan Racikan Produk hingga Jangkau Pasar Dunia
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

