Sendiri di Gubuk Triplek, Sopiyah Bertahan di Usia Senja

Sendiri di Gubuk Triplek, Sopiyah Bertahan di Usia Senja

Nenek Sopiyah duduk bersandar di sudut ruangan sempit, Rabu (7/1/2026). Ia tinggal seorang diri di sebuah bangunan berbahan triplek.-Ade Gustiana-radarcirebon

Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, Sopiyah sepenuhnya bergantung pada bantuan warga sekitar—tetangga, saudara yang masih peduli, hingga perhatian dari RT dan RW.

BACA JUGA:Presiden Prabowo Apresiasi Capaian Indonesia di SEA Games 2025, Kemenpora Gandeng BRI Salurkan Bonus Atlet

“Makan dari saudara dan tetangga. Dari Pak RT, Pak RW,” katanya.
Ketua RW 17 Kriyan Barat, Bambang Jumatra, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, sebelum tinggal di gubuk itu, Sopiyah sempat mengontrak rumah. Namun karena tak lagi mampu membayar dan mencari nafkah, ia akhirnya terusir.

“Dulu tinggal ngontrak. Karena sudah enggak mampu cari nafkah, lalu diusir. Akhirnya warga RT/RW gotong royong membangunkan tempat seadanya, sekadar buat tidur,” kata Bambang.

Ia menyebutkan, kondisi fisik Sopiyah saat itu sangat memprihatinkan. Untuk berjalan saja, ia harus merangkak.
Gubuk kecil tersebut dibangun warga sekitar tiga tahun lalu. Tanahnya milik kerabat Sopiyah. Namun dalam kondisi sakit dan keterbatasan fisik, ia benar-benar menjalani hari-harinya seorang diri.

Yang lebih memprihatinkan, menurut Bambang, Sopiyah belum pernah tersentuh bantuan pemerintah. Ia tidak terdaftar sebagai penerima BPNT maupun bantuan sosial lainnya.

BACA JUGA:Pemdes di Indramayu Sikapi Pagu Dana Desa Tahun 2026

“Sehari-hari makan dari belas kasih tetangga. Kami RT/RW sudah pernah lapor ke Dinsos. Tapi katanya tidak ada tempat penampungan untuk lansia yang tidak bisa mengurus diri sendiri. Kerepotannya di situ,” ujarnya.

Bambang berharap pemerintah bisa hadir lebih jauh, bukan sekadar pendataan. Ia berharap Sopiyah dapat ditampung di panti jompo atau lembaga sosial yang memang menangani lansia terlantar.

“Harapannya bisa ditampung Pemkot Cirebon melalui Dinsos, supaya hidupnya lebih layak. Karena di sini kasihan, tidak ada yang mengurus. Keluarganya juga tidak ada. Apalagi beliau sakit-sakitan,” katanya.

Sementara Sopiyah sendiri hanya memiliki satu harapan sederhana. “Ingin sembuh. Sehat,” ucapnya pelan.
Di gubuk sempit itu, Sopiyah terus bertahan—mengandalkan tongkat kayu, mengandalkan kepedulian tetangga, dan menunggu uluran tangan yang lebih pasti. (ade)

BACA JUGA:Hujan Deras, Tanggul Sungai Cimanuk di Blok Pulocangak Kembali Amblas

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: