Hadirkan Konsep Persahabatan, Ajak Anak Jalanan dan Punk Mengaji

Hadirkan Konsep Persahabatan, Ajak Anak Jalanan dan Punk Mengaji

Sahabat At Taubah merupakan komunitas yang aktif mengadakan pengajian bagi anak-anak punk dan anak jalanan, khususnya di wilayah Indramayu bagian barat (Inbar). Dengan konsep persahabatan, komunitas ini berikhtiar mendekatkan mereka dengan agama.

KHOLIL IBRAHIM, Haurgeulis

PENGAJIAN rutin biasanya dilangsungkan setiap malam Jumat usai salat Isya berjamaah di Masjid At Atubah di Dusun Sukahati, Desa Sukajati, Kecamatan Haurgeulis. Materi yang disampaikan soal pendalaman ilmu agama, tauhid dan akhlak.

Sahabat At Taubah mendatangkan para pencemahnya dari MUI Kecamatan Haurgeulis. “Ngajinya sih cuma sekitar lima belas menitan. Yang lama itu ngopinya,” kata relawan Sahabat At Taubah, Haris Sugiarto (36) sambil tersenyum kepada Radar, kemarin.

Ngopi yang dia maksud, tak sekedar rereiungan ngobrol tak tentu arah. Tapi tetap menyampaikan materi keagamaan dengan menghadirkan diskusi menarik.

Menurut Haris, untuk mengajak anak punk belajar agama  tidaklah mudah. Perlu strategi khusus untuk menarik simpatik anak-anak punk agar mau datang berkumpul dan belajar agama.

Karenanya lewat cara ini, selama hampir satu tahun dilaksanakannya pengajian, jumlah anak punk terus bertambah. Tadinya sekitar 20-an sekarang sampai 60-an orang.

Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Kecamatan Haurgeulis, tapi pula Kecamatan Anjatan, Sukra dan Patrol. Usia paling muda 16 tahun dan paling tua 15 tahun.

“Alhamdulillah kami tetap istiqomah. Banyak perubahan yang dialami jamaah anak-anak punk ini. Mulai dari pakaian sampai etikanya. Lebih kalem,” tuturnya.

Sejauh ini, Sahabat At Taubah masih berkutat pada kegiatan pengajian keagamaan. Kedepannya, dia berharap dapat melaksanakan kegiatan pemberdayaan bagi anak-anak punk.

Camat Haurgeulis, Rory Firmansyah SSTP MSi mengapresiasi dan mendukung kegiatan Sahabat At Atubah untuk merealisasikan program pemberdayaan bagi anak-anak punk. Semisal pelatihan wirausaha.

Sebagai bentuk dukungan, diapun hadir dan ikut serta dalam kegiatan pengajian rutin bersama anak-anak punk. “Kita akan upayakan. Sekarangpun kami telah melaksanakan kegiatan pelatihan wirausaha bagi Komunitas Anak Muda Haurgeulis. Sahabat At Atubah kita ajak gabung,” ujarnya.

Camat Rory menegaskan, sebagai kaum marginal, anak punk jalanan lengket dengan stigma negatif di sendi kehidupan sosial. Tak jarang, keberadaan mereka malah dianggap meresahkan. 

Karena itu, keberadan Sahabat At Taubah diharapkan mampu membimbing mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: