Pendapatan Turun, Banyak Juragan Terpaksa Jual Kapal
INDRAMAYU-Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ternyata membuat nelayan di Kabupaten Indramayu mengalami masa sulit. Selain penjualan menurun, harga ikan juga jatuh. Hal itu membuat sejumlah juragan kapal di sentra perikanan Desa Karangsong, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, terpaksa menjual kapalnya.
Sekretaris Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra Desa Karangsong, Guntur Surya Permata mengungkapkan, pandemi Covid-19 yang mulai melanda China sejak akhir 2019, telah berdampak pada ekspor ikan dari nelayan Karangsong ke negara tersebut.
Kondisi itu semakin parah karena pandemi Covid-19 menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Pemasaran ikan dari Desa Karangsong ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk ekspor ke China, Taiwan dan India, menjadi terhambat. Akibatnya harga ikan menjadi anjlok.
“Orang mungkin mengira kita ini tidak terdampak, padahal sangat terdampak. Pendapatan kita sampai turun 40 persen dalam dua tahun terakhir ini,” kata Guntur, didampingi Ketua Gabungan Organisasi Nelayan Nusantara (GONN), Kajidin.
Di samping harganya yang turun, hasil tangkapan ikan di laut juga menurun. Contohnya kapal yang melaut di Perairan Papua, biasanya hanya butuh waktu sekitar empat bulan, kini harus menghabiskan waktu tujuh hingga sembilan bulan. Hal ini, katanya, berdampak pada meningkatnya biaya operasional, seperti kebutuhan solar maupun perbekalan para anak buah kapal (ABK).
Guntur mencontohkan, kapal berukuran 60 GT membutuhkan 32 ton solar untuk melaut. Dengan harga solar sekitar Rp10 ribu per liter, maka biaya solar sudah menyedot biaya saat melaut.
Kondisi itu diperparah dengan naiknya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang digulirkan pemerintah beberapa waktu yang lalu.
Ketua GONN, Kajidin, menyatakan, kebijakan pemerintah itu telah membuat nasib nelayan yang sudah terpuruk, menjadi lebih terpuruk lagi. Bahkan, tak sedikit juragan kapal di Desa Karangsong yang terpaksa menjual kapalnya karena tak mampu membiaya operasional kapal tersebut.
“Biasanya di sini banyak yang membuat kapal baru, sekarang jarang. Malah kapal yang ada dijual untuk menutupi biaya operasional,” kata Ketua Serikat Nelayan Tradisional (SNT) ini.
Kapal-kapal yang dijual tersebut bervariasi bobotnya. Dari yang mulai seharga ratusan juta rupiah, hingga ada yang mencapai Rp3 miliar. Tak hanya itu, banyak pula kapal yang sedang dalam proses pembuatan, akhirnya menjadi mangkrak.
“Kondisi pandemi Covid-19 benar-benar mencekik kami. Harga ikan turun, pemasaran dan ekspor tersendat, ditambah harga BBM naik, harga perbekalan naik dan PNBP naik. Nelayan saat ini menjerit,” tandas Kajidin.
Kajidin berharap pemerintah terutama Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) bisa berpihak pada nasib nelayan. Karena selama ini, nelayan telah memberikan kontribusi yang besar pada negara.
Terkait kondisi Pelabuhan Karangsong, Kajidin juga meminta ada perhatian lebih dari pemerintah untuk membenahi kondisi pelabuhan Karangsong. Apalagi, produksi ikan yang dihasilkan para nelayan Karangsong sangat tinggi.
Sebagai contoh, pada Oktober 2021, hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di tempat pelelangan ikan (TPI) Karangsong mencapai rata-rata 50 ton per hari. Besaran produksi itu setara dengan nilai sekitar Rp 900 juta per hari. Nilai itu jauh lebih besar dari pelabuhan lainnya, termasuk yang berstatus pelabuhan perikanan nusantara (PPN).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

