Pertamina Dorong Budi Daya Teripang Pasir

Pertamina Dorong Budi Daya Teripang Pasir

INDRAMAYU- Dengan garis pantai sepanjang 114,1 kilometer, Kabupaten Indramayu sangat potensial dengan hasil laut dan tambak, seperti ikan bandeng dan udang.

Melihat potensi yang cukup besar, PT Kilang Pertamina Balongan RU VI Balongan menggulirkan program corporate social responsibility (CSR) yang dinamakan program Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA) untuk Kelompok Tani (Poktan) Kesambi Berkah, Blok Kesambi, Desa Balongan.

Melalui program ini, petani tambak di Kabupaten Indramayu mencoba hal baru. Mereka bukan saja budi daya ikan bandeng atau udang, tapi mencoba melakukan budi daya teripang pasir.

Teripang pasir memiliki prospek yang sangat bagus di pasar dalam dan luar negeri karena dapat dijadikan bahan obat, produk kecantikan, bahkan untuk dikonsumsi masyarakat di kota-kora besar.

Community Development Officer PT Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan, sekaligus Pendamping Program Asri Widayati  menyebutkan, dalam pengembangan budi daya teripang pasir sistem IMTA di Kelompok Tani (Poktan) Kesambi Barokah sudah dua tahun, sejak tahun 2020.

Dikatakan Asri, sebelum melakukan budi daya, pihaknya melakukan kajian dengani tim ahli dari Universitas Gajah Mada (UGM).

“Ternyata di Indramayu cocok untuk budi daya teripang pasir, dengan sistem IMTA. Saat diuji pada tahun peratama, ketika pembuatan deplot, hasil pertumbuhan teripang pasir sangat bagus,” ujar Asri.

Dijelaskan Asri, sistem budi daya hewan laut yang memadukan beberapa komoditas yang mempunyai tingkatan tropik berbeda.

“Di Poktan Kesambi Barokah menerapkan dua komoditas, yakni ikan bandeng dan teripang pasir yang dibudidayakan pada satu tambak. Sumber pakan teripang dari kotoran ikan bandeng,” terang Asri pada Radar Indramayu saat meninjau lokasi tambak, belum lama ini.

Dijelaskan Asri, jika sebelumnya dalam satu tambak hanya diisi dengan satu komoditas saja, saat ini dengan sistem IMTA bisa dioptimalkan dengan dua sampai tiga jenis komoditas yang tingkat tropiknya berbeda, namun saling menguntungkan.

“Selain efesiensi pakan dan diversifikasi produk, sistem ini juga ramah lingkungan, karena limbah kotoran yang dihasilkan satu komoditas dapat menjadi sumber pakan atau sumber energi bagi komoditas lainnya, dengan sistem ini juga dapat meningkatkan hasil tambak lebih maksimal dan menguntungkan bagi petani tambak itu sendiri,” bebernya.

Terkait budi daya teripang pasir, Asri beralasan, karena harga pasar sangat bagus. “Untuk basah antara Rp500 sampai Rp800 ribu per kilo. Sedangkan untuk kering bisa di atas Rp1 juta. Tetapi di Kabupaten Indramayu belum ada petambak yang budi daya teripang pasir. Untuk itu, Pertamina gulirkan program CSR dalam bentuk program IMTA,” paparnya.

Sementara itu, Community Development Officer (CDO) RU VI Balongan Yoga Satria Gumilar mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan karena faktor cuaca seperti banjir, Kelompok Tani Kesambi Berkah menyediakan kolam karantina dan selalu mengotrol air apabila air di dalam tambak berkurang.

“Belajar dari tahun yang lalu, banyak teripang yang gagal dipanen karena diguyur hujan selama dua hari berturut-turut, makanya di siapkan kolam karantina. Insya Allah, bulan depan kita bisa panen,” kata Yoga Satria Gumilar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: