Dibantu Laboratorium Pertamina, Waklan Sukses Kembangkan Padi Organik
INDRAMAYU – Waklan (44), petani asal Desa Kedokanbunder Wetan Blok Truwali, Kecamatan Kedokanbunder Kabupaten Indramayu, sukses mengembangkan budidaya padi secara organik. Meski hanya berpendidikan SD, namun pengetahuannya di bidang pertanian sangat luar biasa. Bahkan ia layak mendapatkan predikat “profesor” atas kiprahnya.
Ditemui di kediamannya, Kamis (11/11), Waklan langsung menyambut kami dengan ramah. Didampingi istrinya, yang namanya minta ditulis ‘Ny Waklan’ saja, Waklan langsung mengajak kami masuk ke Laboratorium Pos Pelayanan Agen Hayati (PPAH), yang merupakan bantuan CSR Pertamina EP.
Waklan merupakan Ketua Kelompok Tani Sri Trusmi Satu Desa Kedokanbunder Wetan, yang berlokasi dekat dengan SPU-A Desa Kedokanbunder Wetan Kecamatan Kedokanbunder, Kabupaten Indramayu. Sejak empat tahun lalu ia mengaku sudah mengembangkan kompos dan pestisida nabati untuk pengolahan lahan pertanian. Tujuannya untuk menghasilkan beras yang sehat dan ramah lingkungan.
“Awalnya sih tujuannya untuk konsumsi kita sendiri, saya dan anggota kelompok serta keluarganya. Jangan sampai kita sebagai petani diracuni sendiri. Kita ingin makan beras yang sehat dan ramah lingkungan,” ungkap Waklan.
Pada tahun 2017, Waklan bersama anggota kelompok sempat mengikuti sosialisasi tentang aplikasi agens hayati untuk budidaya padi sawah, dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Jawa Barat. Dari situlah, Waklan mendapatkan ilmu tambahan tentang pengembangan agens hayati. Ia kemudian langsung praktek menerapkan agens hayati secara bertahap pada lahan sawahnya.
“Pertama kali saya mencoba pakai agens hayati untuk 700 meter persegi sawah, ternyata hasilnya memuaskan. Irit biaya produksi dan ramah lingkungan,” ungkap Waklan.
Waklan mengakui kalau penerapan agen hayati untuk pengendalian penyakit awalnya cukup ribet. Butuh kesabaran dan keuletan. Karena petani harus membuat sendiri agens hayati, dengan bahan-bahan dari alam. Beberapa kali mencoba, dan beberapa kali gagal. Mencoba lagi dan terus mencoba, hingga akhirnya menuai hasil. Penerapan agen hayati yang dikombanasikan dengan penggunaan pestisida nabati ternyata membawa hasil yang memuaskan.
Melihat adanya peningkatan hasil dan efisiensi biaya produksi yang cukup signifikan, dengan menggunakan agens hayati, Waklan bersama anggota kelompok terus menambah luasan lahan padinya untuk diaplikasikan agens hayati dan pestisida nabati.
Imbasnya, ia harus terus melakukan perbanyakan agen hayati. Bahkan karena belum memiliki tempat khusus, Waklan terpaksa menggunakan kamar tidurnya sebagai tempat perbanyakan agens hayati. Ia rela untuk tidur di luar kamar demi pengembangan agens hayati yang lebih banyak.
Salah satu keberhasilan yang menonjol dari Waklan bersama Kelompok Tani Sri Trusmi Satu, saat berhasil melakukan pengendalian hama wereng batang coklat (WBC) dengan menggunakan pestisida nabati yang berasal dari buah sirih hutan (piper aduncum L), dan mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pertanian RI. Penghargaan diberikan sebagai Kelompok Tani Berprestasi Bidang Pengembang Agens Hayati.
Kiprah Waklan semakin berkembang, ketika pada tahun 2019 Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field melalui program pemberdayaan masyarakat bidang pertanian, ikut mendukung kiprah Waklan bersama kelompoknya untuk pengembangan padi organik. Pertamina memberikan bantuan berupa laboratorium beserta perlengkapannya, untuk pengembangan agens hayati maupun pestisida nabati.
Waklan tentu saja sangat gembira dan tidak menyangka akan ada pihak yang peduli terhadap dirinya. “Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur dibantu pembangunan laboratorium untuk pengembangan agens hayati. Saya berterima kasih sekali kepada pihak Pertamina,” ungkapnya bangga.
Jatibarang Field Manager Hari Widodo, pada saat peresmian laboratorium mengatakan bahwa, yang menjadi fokus Pertamina EP Jatibarang Field pada program ini adalah tidak saja untuk peningkatan kapasitas petani di Indramayu, namun melihat dari sisi lingkungan dan kesehatan terhadap mutu pangan.
Menurutnya, tidak banyak yang tahu apa itu agens hayati, mengapa perlu dikembangkan dan apa manfaat dari agens hayati tersebut. Lewat Ketua Kelompok Tani Sri Trusmi Satu, Waklan, telah mampu melakukan inovasi dengan keuletannya menciptakan teknologi yang ramah bagi lingkungan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

