Dampak Cuaca Buruk, Ribuan Nelayan Tak Melaut

Dampak Cuaca Buruk, Ribuan Nelayan Tak Melaut

INDRAMAYU-Dampak dari cuaca buruk seperti hujan dan angin kencang belakangan ini, membuat ribuan nelayan kecil di Kabupaten Indramayu tak bisa melaut. Mereka takut dengan kondisi cuaca buruk yang bisa menghempaskan perahu mereka.

Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto mengungkapkan, sudah tiga hari ini nelayan kecil terpaksa “parkir”, karena kondisi hujan angin dan gelombang tinggi. “Mereka memilih untuk menepi, karena risikonya sangat berbahaya,” ujar Dedi, Senin (6/12).

Dedi mengungkapkan, di Kabupaten Indramayu ada sekitar 10 ribu orang nelayan yang biasa melaut dengan kapal kecil. Mereka hanya melaut di sekitar perairan Kabupaten Indramayu, dengan kapal berukuran di bawah 10 gross ton (GT).

Dikatakannya, kapal-kapal kecil milik nelayan itu hanya diperkenankan melaut dengan ketinggian gelombang 1,25 meter atau maksimal dua meter. Sedangkan saat ini, ketinggian gelombang di laut bisa mencapai diatas 2,5 meter.

“Ketinggian gelombang 2,5 meter saja sudah berbahaya bagi kapal-kapal kecil. Sementara sekarang bisa lebih dari itu tukas,” tambah Dedi.

Akibat terhentinya aktivitas melaut para nelayan kecil itu otomatis berdampak pada pasokan ikan di tempat pelelangan ikan (TPI). Menurutnya, aktivitas pelelangan ikan di TPI menjadi sepi.

Dedi mencontohkan, di TPI Glayem Kecamatan Juntinyuat, sejak tiga hari terakhir ini, tidak ada kapal yang pulang melaut dan melakukan aktivitas bongkar kapal. Menurutnya, aktivitas pelelangan ikan pada Senin (6/12) hanya dilakukan oleh satu kapal.

Dedi mengatakan, dalam kondisi normal, produksi ikan yang dilelang di TPI Glayem berkisar di antara 20-40 ton per hari. Produksi ikan itu merupakan hasil tangkapan dari puluhan kapal milik nelayan setempat.

Terpisah, Ketua Serikat Nelayan Tradisional (SNT), Kajidin menyatakan, saat ini nelayan-nelayan kecil di Kabupaten Indramayu memang tak bisa melaut akibat cuaca buruk. Mereka menganggur dan menjerit, karena tak bisa memperoleh penghasilan.

Kajidin menambahkan, tak hanya nelayan kecil, nelayan Indramayu dengan kapal yang cukup besar pun susah untuk mencari ikan. Mereka sudah terlanjur berangkat melaut dan terjebak cuaca buruk sehingga tidak bisa pulang kembali ke Indramayu.

“Saat ini banyak kapal yang terpaksa berteduh di pulau-pulau kecil. Ada juga yang berteduh di pelabuhan terdekat,” terang Kajidin.

Kajidin mencontohkan, nelayan asal Kabupaten Indramayu yang mencari cumi-cumi, saat ini terpaksa berteduh terlebih dulu di pelabuhan sekitar perairan Jakarta. Mereka berteduh sambil menunggu kondisi cuaca kembali membaik.

Kajidin menyebutkan, jumlah kapal asal Kabupaten Indramayu yang berteduh di pulau-pulau kecil maupun pelabuhan terdekat ada ratusan kapal. Mereka sebelumnya sudah terlanjur berangkat melaut.

Tak hanya gelombang tinggi di laut, tambah Kajidin, banjir akibat gelombang tinggi (rob) yang melanda pesisir di Kabupaten Indramayu juga menyulitkan nelayan untuk berangkat melaut.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: