PSM Makassar misalnya, menempati peringkat keempat dengan valuasi sekitar Rp91 miliar.
Sedangkan Borneo FC masih bertahan di kisaran Rp77-80 miliar dengan roster yang penuh pemain asing berlabel bintang.
Persebaya juga tak mau kalah, menembus daftar lima besar berkat kombinasi pemain muda dan pengalaman, dengan nilai pasar hampir Rp85 miliar.
Faktor lonjakan nilai beberapa klub ini antara lain didorong planning transfer jangka panjang, branding digital, dan loyalitas suporter, faktor-faktor yang secara global memang terbukti ampuh mendongkrak harga pasar.
Di sisi lain, PSBS Biak, klub promosi kebanggaan Papua, menjadi tim dengan market value terendah musim ini, hanya sekitar Rp35-36 miliar.
Namun, rendahnya valuasi bukan berarti peluang kecil untuk memberi kejutan di kompetisi penuh drama ini.
Justru, klub rendah biaya acapkali sukses mencuri panggung lewat performa kolektif, scouting efektif, dan etos kerja tanpa beban ekspektasi juara.
Fenomena klub-klub "hemat" seperti ini juga terjadi di banyak liga top dunia, di mana kalkulasi cermat dan bakat muda mampu menyaingi klub papan atas bermodal besar.
Tak sedikit penonton menantikan kejutannya "mampukah tim minim nilai pasar menepis stigma dan meraih kejayaan dalam duel melawan para sultan Super League?"
Market value klub kini sudah menjadi lebih dari sekadar angka di berkas neraca keuangan yang di mana ia menjadi simbol manajemen modern klub sepak bola dengan kombinasi scouting, investasi pemain, branding media sosial, dan program pembinaan usia muda.
Daya tarik investor, sponsor, dan bahkan minat suporter turut berperan membentuk, menjaga, dan mendorong naik-turunnya nilai pasar tiap institusi.
Alhasil, sepakbola Indonesia memasuki babak baru di mana perang finansial dan branding makin menambah bumbu cerita klasik rivalitas abadi antar klub.
Bukan hal mustahil bila dalam waktu singkat, daftar market value klub Liga 1 berubah dramatis mengikuti transfer, kinerja, dan kisah ajaib di lapangan.