Dampak Harga Gabah Mahal, Pabrik Penggilingan Padi Setop Produksi

Selasa 03-01-2023,14:00 WIB
Reporter : Kholil Ibrahim
Editor : Leni indarti hasyim

INDRAMAYU, RADARINDRAMAYU.ID -Sejumlah pabrik penggilingan padi di wilayah pantura Bumi Wiralodra setop produksi. Langka dan mahalnya harga gabah menjadi biang keroknya.

Di kawasan sentra industri beras wilayah Kecamatan Bongas dan Anjatan misalnya, puluhan pabrik di dua kecamatan bertetangga itu dilaporkan sudah tidak berproduksi.

Hanya tersisa sejumlah pabrik besar. Masih bertahan, itupun dengan kapasitas produksi sangat terbatas.
“Mayoritas tutup sementara. Gabahnya lagi langka, mahal lagi,” ucap Jaya, pengelola pabrik penggilingan padi di Kecamatan Bongas, Senin (2/1).

Dia menyebutkan, harga gabah saat ini di atas Rp700 ribu per kuintal. “Lagi tinggi-tingginya,” tandasnya.
Menurutnya, stok di petani menipis, barang susah didapat. Simpanan gabah yang masih tersisa tak mau lagi dijual.

BACA JUGA:Hari Ini Sekda Dian Jalani Uji Kompetensi

Mereka memilih untuk kebutuhan sendiri selama berlangsungnya musim paceklik, sampai datangnya musim panen padi berikutnya.

Untuk mensiasati ketersediaan bahan baku, para bandar terpaksa mencari gabah sampai keluar daerah. Seperti Kabupaten Karawang hingga Provinsi Banten yang sedang memasuki musim panen. Harga gabah disana masih cukup terjangkau, di kisaran Rp6000-6500/kg.

Namun demikian, untuk memperolehnya tidak mudah, sebab harus berebut dengan para bandar dari wilayah kabupaten lainnya.

“Sekarang ini pada nyari gabahnya kesana. Harganya masih lumayan, tapi kalau soal kualitas sih kalah sama gabah Dermayu,” ujarnya.

BACA JUGA:Komisi III DPRD Indramayu Desak Penyelamatan BWI dan BPR KR

Selain persoalan bahan baku, tutupnya pabrik juga karena mulai sulitnya pengiriman beras ke Pasar Induk Beras (PIB) Cipinang, Jakarta Timur. Menyusul datangnya beras impor.

Sebagaimana diketahui, pemerintah sudah mengimpor ribuan ton beras dari luar negeri pada pertengahan Desember 2022 lalu. Sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Beras impor tersebut merupakan bagian dari total 200.000 ton beras yang direncanakan datang bertahap hingga awal tahun 2023, sebelum panen raya. Ribuan ton beras impor asal Vietnam itu dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan beras di wilayah DKI Jakarta.

BACA JUGA:Bupati Cek ke Lokasi Pantai Eretan, Janji Perbaiki Rumah Warga

Hal itu dibenarkan Rusnadi, pengelola pabrik penggilingan beras asal Kecamatan Anjatan. Masuknya beras impor membuat pasokan beras asal Indramayu berkurang drastis. Hanya diperjual belikan untuk pedagang dan konsumen loyal yang tidak mau mengkonsumsi beras luar negeri.

Kategori :