KTH Cemara Kulon Berhasil Panen Semangka dari Lahan Gersang
PANEN: Anggota KTH Cemara Kulon menunjukan hasil panen semangka yang berhasil dikembangkan di lahan gersang pesisir Cemara Kulon, Kecamatan Losarang.-ist-radarindramayu
INDRAMAYU, RADARINDRAMAYU.ID – Bangunan yang paling mencolok di antara bangunan lain berlokasi Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, INDRAMAYU. Berwarna Oranye terang, dengan tinggi dua sampai tiga kali orang dewasa.
Di atasnya tersusun pelat-pelat sel surya yang dibungkus bingkai alumunium berjajar di belakang bagunan tersebut, Sukarma (50) bersama belasan rekannya bekerja di bawah terik matahari, dipertenghan tahun 2026, mengawali bulan Juli, mereka terlihat memelintir semangka seukuran kepala orang dewasa, berupaya melepaskannya perlahan dari sulur-sulur daun yang mulai menguning.
Untuk mencapai lahan garapan tersebut, beberapa waktu lalu, Sukarman dan rekan-rakannya yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Cemara Kulon dari jalur utama Pantura, harus melewati jalanan yang membelah hamparan tambak garam.
Disela-sela kegiatannya memanen samangka, Sukarma mengenang masa-masa suram sebelum lahan pesisir ini berubah. Menurutnya dahulu, kondisi tanah yang digarap bersama rekannya tersebut merupakan lahan gersang dan kering, hal ininmembuat upaya menanam pepohonan buah nyaris mustahil, bibit kerap mati layu sebelum berakar.
BACA JUGA:Sensus Ekonomi 2026 di Indramayu Berjalan Lancar, Warga Kerap Tanyakan Bantuan
Tak berhenti disitu saja, permasalahan lainnya saat berganti musim yaitu pasa musim hujan tiba, genangan di lahan tandus tersebut beralih menjadi surga bagi nyamuk. Kawanan nyamuk rawa kerap menyerang tanpa ampun, menempel lekat mengisap darah para petani, dan tak mau lepas kecuali ditepuk hingga mati.
“Saat kemarau kami kesulitan karena susahnya air, saat hujan dihabisi nyamuk. Tapi sekarang, kalau melihat merahnya semangka ini, rasa lelah dan siksaan bertahun-tahun itu terasa sepadan dengan hasil yang didapat,” terang Sukarma.
Sukarma mengungkapkan sejak tahun 2023, KTH Cemara Kulon mulai menggarap lahan yang bisa dikatakan lahan yang mati tidak produktif. Pemandangan yang gersang dan semilir angin pesisir senantiasa membawa udara lembab yang terasa lengket di kulit. Di sana, KTH Cemara Kulon menggarap 1,5 hektare lahan dari total seribuan hektare lahan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) setempat
Namun berkat kegigihan anggota KTH Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, mereka mampu membuktikan dengan usaha dan kerja keras mampu merubah lahan gersang yang sebelumnya tidak mungkin bisa menjadi lahan pertanian produktif dan menguntungkan, kini bisa disaksikan keberhasilannya.
“Memang kami membutuhkan kerja keras semua anggota kelompok, hingga akhirnya bisa memanen semangka, ini juga berkat dukungan dari semua pihak salah satunya Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ),” ujarnya.
Ditertengahan 2026, KTH Cemara Kulon merampungkan siklus panen semangka yang kedua. Dengan frekuensi panen tiga kali dalam setahun, produktivitas lahan ini terbilang tinggi. Setiap kali panen, kelompok ini menghasilkan sekitar 7 ton semangka berdaging kuning dan merah. Semangka ranum tersebut dibanderol seharga Rp6.000 per kilogram. Bilangan harga yang membuat mereka mampu meraup keuntungan hingga Rp 40 juta per musim.
BACA JUGA:Porsadin VIII Jadi Wadah Prestasi Santri, Karangampel Sabet Gelar Juara Umum
Sejak 2023, didukung Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), kelompok ini menanam macam-macam tumbuhan. Dari bunga seperti air mata pengantin, sampai semangka dan duren. Keberlangsungan aneka vegetasi ini ditopang oleh sistem pengairan otomatis yang ditenagai panel surya berkapasitas 10 kWp (kilowatt-peak) yang menghiasi atap bangunan oranye, yang merupakan fasilitas bantuan dari Perusahaan.
Sari bunga hasil vegetasi menjadi pakan utama bagi budidaya lebah madu jenis Trigona. Sektor budidaya lebah ini turut menyumbang angka yang tak kalah menjanjikan. Setiap kali panen, kelompok ini berhasil memproduksi 10 liter madu per bulan. Jika dikemas dan dijual seharga Rp50.000 per 100 mililiter, potensi pendapatan ekstra yang mengalir ke kas KTH Cemara Kulon bisa menembus angka Rp5 juta.
Menariknya, oase di pesisir Indramayu ini tidak berdiri sendiri. Ikhtiar menyuburkan tanah gersang tersebut terkoneksi langsung dengan kelompok binaan PHE ONWJ lainnya di Desa Sukajaya, Kabupaten Karawang. Tanah berpasir Cemara Kulon yang tadinya miskin unsur hara, kini menjadi subur berkat asupan pupuk hasil olahan limbah cangkang rajungan yang dipasok dari kelompok binaan PHE ONWJ di Karawang.
Head of Communication, Relations, & CID PHE ONWJ Ery Ridwan menuturkan, sebagai bagian dari industri hulu migas, tanggung jawab PHE ONWJ tentu lebih dari sekadar menjaga ketahanan energi nasional. PHE ONWJ juga berkomitmen memastikan kehadiran Perusahaan memberikan efek ganda yang positif bagi masyarakat pesisir.
BACA JUGA:Lucky Hakim Kucurkan Hibah Rp13 Miliar untuk Ribuan Guru Madrasah Diniyah di Indramayu
Menurut dia apa yang berhasil dicapai di Cemara Kulon adalah implementasi dari transisi program yang semula bersifat parsial, kini bertransformasi menjadi sebuah pendekatan ekosistem yang terintegrasi.
“Upaya kami mendampingi masyarakat Sukajaya Karawang untuk memecahkan masalah limbah cangkang rajungan dengan mengolahnya menjadi pupuk berdampak ganda. Pupuk ini digunakan untuk merevitalisasi unsur hara di Cemara Kulon, Indramayu,” kata Ery.
Disampaikan Ery, untuk memastikan ekosistem pertanian ini berjalan, PHE ONWJ melengkapi dengan instrumen energi baru terbarukan.
“Mengairi lahan gersang dan berair payau di pesisir itu sangat menantang dan butuh biaya besar. Maka, terik matahari Indramayu kita konversi menjadi tenaga listrik melalui instalasi panel surya 10 kWp untuk menggerakkan sistem irigasi secara otomatis,” jelasnya. (oni)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

