Yamaha Aerox: Evolusi Gagah dari Nouvo yang Menyodok Dominasi PCX dan NMAX
Yamaha Aerox: Evolusi Gagah dari Nouvo yang Menyodok Dominasi PCX dan NMAX-radarindramayu-
RADARINDRAMAYU.ID - Kesan pertama terhadap Yamaha Aerox mungkin akan memicu nostalgia bagi sebagian besar pencinta roda dua, terutama mereka yang pernah terkesima oleh Suzuki Satria FU di awal 2000-an.
Bedanya, jika dulu pesona Satria FU ada pada performa dan desain rampingnya yang ikonik, maka Aerox tampil dengan pendekatan yang lebih modern, maskulin, dan sekaligus elegan.
Tak berlebihan jika menyebut Aerox sebagai penerus ruh kejayaan motor sport-matic ringan di Indonesia. Desainnya tegas, garis-garis bodinya agresif, dan kesan dinamis langsung terasa sejak pandangan pertama. Motor ini seakan menjembatani dua dunia: fungsionalitas motor matic harian dan karakter sporty ala motor balap.
Sebelum Aerox menjadi seperti sekarang, publik sudah lebih dulu diperkenalkan pada Yamaha Nouvo—cikal bakalnya. Nouvo hadir di era yang belum sepenuhnya siap menerima motor matic berdesain besar.
BACA JUGA:Bantu Pencairan dan PKH, Brilink Bating Raya Talang Pangeran Layani Pencairan Jemput Bola
Di tengah gempuran Mio, Vario, hingga Beat yang lebih sederhana dan praktis, Nouvo gagal mencuri perhatian meski secara teknis ia cukup mumpuni. Ironisnya, lampu depan Nouvo justru menjadi komoditas modifikasi yang populer di kalangan pemilik Mio saat itu.
Kini, Yamaha tampaknya telah belajar dari kegagalan tersebut. Aerox tampil sebagai paket lengkap. Ia tidak hanya menantang PCX dan NMAX dari sisi performa, tapi juga mengusung daya tarik visual yang kuat.
Motor ini memang ditujukan sebagai alternatif bagi mereka yang menginginkan motor matic gambot, tapi enggan terjebak dalam aura "serius" milik PCX atau "overused" milik NMAX.
Dari sisi performa, Aerox dibekali mesin 155 cc berteknologi VVA (Variable Valve Actuation) yang membuat tarikan bawah dan atas tetap bertenaga.
Ergonomi riding-nya memang agak kaku bagi sebagian orang, terutama karena posisi duduk yang tinggi dan jok yang cukup lebar. Namun, bagi mereka yang mencari kesan berkendara yang “berbeda” dan lebih sporty, ini justru menjadi kelebihan.
Tentu saja Aerox tidak tanpa kekurangan. Suspensinya cenderung keras, kapasitas tangki tergolong kecil, dan penyakit error “kode 12” pada sistem kelistrikan sempat jadi keluhan di beberapa komunitas pengguna. Namun kelemahan ini sering kali dikompensasi oleh desain, performa, dan status sosial yang dibawanya.
Menariknya, Aerox telah melampaui posisinya sebagai sekadar kendaraan. Ia kini juga menjadi simbol gaya hidup anak muda urban. Sama seperti Satria FU di zamannya—yang rela dibela meski tak nyaman—Aerox punya daya pikat emosional yang kuat.
BACA JUGA:Pembagian Bansos di Haurgeulis, Warga Terima Beras 20 Kilogram untuk Dua Bulan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

